Umum

Gubernur Khofifah: BBIB Singosari Jadi Pilar Penguatan Genetika Ternak Nasional

262
×

Gubernur Khofifah: BBIB Singosari Jadi Pilar Penguatan Genetika Ternak Nasional

Share this article

PIKIRANKITA.ID – MALANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan apresiasi kepada Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, atas keberhasilannya mengembangkan dan memproduksi semen beku berbagai ternak unggul, termasuk sapi Wagyu, Belgian Blue, Limousin, Simmental, Angus, Brahman, Sapi Bali, Sapi Madura, Peranakan Ongole, hingga Friesian Holstein.

Menurut Khofifah, keberhasilan BBIB Singosari menjadi modal strategis dalam memperkuat kualitas genetika ternak nasional sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada daging di Indonesia.

Apresiasi tersebut disampaikan saat Gubernur Khofifah meninjau langsung fasilitas BBIB Singosari, Minggu (28/6).

Dalam kunjungannya, Khofifah melihat berbagai pejantan unggul yang dimiliki BBIB Singosari. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah sapi Belgian Blue, yang pertama kali dikenalkan kepadanya oleh Duta Besar Belgia pada 2018 di Surabaya. Ketertarikannya terhadap jenis sapi berotot ganda tersebut semakin kuat setelah menjelang Iduladha lalu bertemu dengan peternak Belgian Blue asal Mojokerto.

Ia menyebut pengembangan semen beku Belgian Blue di BBIB Singosari telah dimanfaatkan oleh peternak di Mojokerto, Situbondo, Bondowoso, hingga Jember. Ke depan, ia berharap pemanfaatannya dapat diperluas, terutama melalui program persilangan untuk meningkatkan kualitas sapi potong nasional.

Selain Belgian Blue, Khofifah juga menyoroti keberhasilan BBIB Singosari mengembangkan semen beku sapi Wagyu. Menurutnya, peluang pengembangan Wagyu di Indonesia sangat besar mengingat tingginya nilai ekonomi daging premium tersebut.

“Harga daging sapi Wagyu di restoran maupun hotel berbintang masih berada di atas Rp1 juta per kilogram. Karena itu proses pemeliharaannya memang tidak murah dan tidak mudah. Namun BBIB Singosari telah memulai pengembangannya sejak sekitar lima tahun lalu,” ujarnya.

Khofifah menilai keberhasilan menghasilkan bibit unggul saja belum cukup. Pendampingan kepada peternak, khususnya dalam menerapkan standar pemeliharaan yang baik seperti di Jepang, juga menjadi faktor penting agar kualitas daging Wagyu yang dihasilkan mampu bersaing di pasar premium.

See also  Gubernur Khofifah Resmikan Fasilitas SMAN Taruna Madani dan Revitalisasi 22 SMA/SMK/SLB di Pasuruan–Probolinggo

Karena itu, ia berharap BBIB Singosari terus memperkuat peran pendampingannya kepada para peternak, baik untuk pengembangan Belgian Blue maupun Wagyu.

“Saya berharap apa yang dilakukan BBIB Singosari terus ditingkatkan. Seluruh provinsi juga perlu memanfaatkan keberadaan balai ini. Dengan komitmen bersama, saya optimistis dalam tiga tahun Indonesia dapat mencapai swasembada daging,” tegasnya.

Khofifah menegaskan, BBIB Singosari merupakan aset strategis nasional yang selama ini berperan besar dalam meningkatkan mutu genetik ternak melalui pengembangan teknologi reproduksi dan produksi semen beku berkualitas.

“Keberadaan BBIB Singosari merupakan aset nasional yang memiliki peran sangat penting dalam mempercepat peningkatan populasi sekaligus kualitas genetik ternak di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, kapasitas BBIB Singosari tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu pusat produksi semen beku unggul berstandar internasional yang melayani kebutuhan inseminasi buatan di berbagai negara.

“Potensi besar yang dimiliki BBIB Singosari harus dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh provinsi. Teknologi reproduksi yang dikembangkan di sini dapat menjadi pengungkit peningkatan produktivitas peternakan nasional,” ujarnya.

Dengan dukungan teknologi reproduksi, peningkatan kualitas bibit, optimalisasi program inseminasi buatan, serta sinergi antardaerah, Khofifah meyakini target swasembada daging bukan sekadar wacana.

“Indonesia sesungguhnya telah memiliki fondasi yang kuat untuk mencapai swasembada daging. Yang diperlukan saat ini adalah penguatan sinergi antardaerah, optimalisasi inseminasi buatan, peningkatan kualitas bibit, serta pendampingan yang berkelanjutan kepada peternak,” katanya.

Ia kembali menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan impor daging.

“Saya sangat sering menyampaikan bahwa kita memiliki potensi swasembada daging. Menurut hitungan saya, tiga tahun kita bisa mewujudkannya apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama,” imbuhnya.

See also  Gubernur Jatim Dorong Budaya Jujur di Sekolah Lewat Program Sekolah Berintegritas

Sementara itu, Kepala BBIB Singosari Akbar menjelaskan bahwa BBIB Singosari merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian yang saat ini memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan semen beku nasional.

Hingga semester pertama 2026, BBIB Singosari telah memproduksi 895.559 dosis semen beku dengan total stok mencapai sekitar 4,7 juta dosis. Jumlah tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan program inseminasi buatan nasional hingga tiga tahun ke depan.

Saat ini BBIB Singosari memiliki 192 pejantan unggul yang terdiri atas berbagai rumpun sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba, termasuk Belgian Blue, Wagyu, Limousin, Simmental, Angus, Brahman, Sapi Bali, Sapi Madura, Peranakan Ongole, dan Friesian Holstein.

Tak hanya melayani kebutuhan dalam negeri, BBIB Singosari juga telah mengekspor lebih dari 35 ribu dosis semen beku ke 11 negara, antara lain Malaysia, Timor Leste, Kamboja, Nigeria, Afghanistan, Madagaskar, Myanmar, Tanzania, Zimbabwe, Ethiopia, dan Kyrgyzstan.

“Alhamdulillah, stok sekitar 4,7 juta dosis siap didistribusikan kapan pun dibutuhkan. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga tiga tahun ke depan,” ujar Akbar.

Ia menambahkan, sinergi antara BBIB Singosari dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus diperkuat untuk mendukung target lebih dari satu juta akseptor inseminasi buatan sapi di Jawa Timur sepanjang tahun 2026. (FDC)