PIKIRANKITA.ID – SURABAYA – Upaya meningkatkan efektivitas layanan kepelabuhanan terus dilakukan oleh KSOP Utama Tanjung Perak bersama PT Terminal Teluk Lamong (TTL) melalui uji coba penataan Zona Labuh 2 atau Express Anchorage Zone Service (EAZI). Program ini ditujukan untuk memangkas waktu tunggu kapal sekaligus menciptakan sistem pelayanan yang lebih terjadwal, terintegrasi, serta aman.
Uji coba dilaksanakan pada Kamis (23/4) di Terminal Petikemas Nilam sebagai lokasi proyek percontohan, yang selanjutnya akan diperluas ke Terminal Petikemas Berlian di bawah pengelolaan TTL.
Pelaksanaan uji coba ditandai dengan pelayanan kapal MV Minas Baru sebagai kapal pertama yang menggunakan alur proses baru. Dalam skema ini, kapal dengan ukuran di atas 4.000 GT dan panjang maksimal hingga 150 meter yang akan bersandar di TPK Nilam maupun TPK Berlian tidak lagi menunggu di area labuh luar. Sebaliknya, kapal diarahkan menuju titik labuh yang telah ditentukan melalui sistem penjadwalan terintegrasi.
Seluruh proses didukung platform digital Inaportnet yang terintegrasi dengan Portal Perak Extended milik KSOP serta sistem Phinisi dari Pelindo. Integrasi ini memungkinkan perencanaan kedatangan kapal (ETA) dan waktu sandar dilakukan lebih presisi dan terkoordinasi.
Melalui penerapan sistem ini, waktu tunggu kapal ditargetkan turun signifikan dari rata-rata 4–6 jam menjadi sekitar 2 jam bahkan kurang. Selain efisiensi, pengaturan pergerakan kapal yang lebih terstruktur juga meningkatkan keselamatan navigasi dengan mengurangi kepadatan lalu lintas di alur pelayaran pelabuhan.
Dalam uji coba tersebut, MV Minas Baru yang melayani rute domestik dipilih untuk menguji efektivitas sistem dalam kondisi operasional nyata. Kapal tercatat memasuki area Karang Jamuang pukul 11.35 WIB, kemudian bergerak menuju zona EAZI dan melakukan lego jangkar pada pukul 13.42 WIB.
MV Minas Baru berada di Zona Labuh 2 selama sekitar satu jam sebelum akhirnya melakukan manuver sandar pada pukul 15.50 WIB. Rangkaian ini menunjukkan implementasi awal sistem penjadwalan yang lebih terstruktur dalam mengatur alur kedatangan kapal.
Kepala Kantor KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, menyebut uji coba ini membuktikan efektivitas program EAZI dalam meningkatkan keteraturan plotting kapal serta layanan kepelabuhanan. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari koordinasi optimal antara KSOP, pandu, VTS, dan pihak terminal yang berjalan sesuai standar operasional.
Sementara itu, Terminal Head TPK Nilam, Retno Pujianto, menilai penataan zona labuh ini menjadi langkah penting dalam transformasi layanan pelabuhan. Selain meningkatkan efisiensi operasional, sistem ini juga memperkuat aspek keselamatan dan kepastian layanan bagi pengguna jasa.
Program EAZI dinilai menjadi bukti sinergi antara regulator, operator pelabuhan, dan pelaku usaha pelayaran dalam mendukung kelancaran arus logistik nasional. Ke depan, evaluasi akan terus dilakukan sebelum sistem diterapkan secara penuh sebagai standar baru pengelolaan zona labuh di pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia guna meningkatkan daya saing logistik nasional di tingkat global. (HQS)



