PIKIRANKITA.ID – WASHINGTON / CARACAS, 9 Januari 2026 – Aksi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan tindakan agresifnya di wilayah negara itu kini menuai kecaman internasional luas, dengan pemerintah Caracas dan sekutu strategisnya menuding Washington melakukan pelanggaran hukum internasional, “teror negara,” dan “pemerasan minyak terbesar dalam sejarah”.
Menurut Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tindakan AS adalah bentuk pemerasan luar biasa terhadap negaranya, serta upaya paksa untuk mengambil alih pemerintahan dan sumber daya minyak negara itu. Moncada mengklaim bahwa Washington “bertindak di luar hukum internasional” dan secara terang-terangan menekan Venezuela atas dalih keamanan dan narkotrafik, meskipun negaranya tidak pernah terbukti melakukan serangan terhadap AS.
Komentar keras itu didukung oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Kuba, Miguel Díaz-Canel, yang mengecam langkah AS sebagai “teror negara yang disengaja” dan pelanggaran terhadap kedaulatan Venezuela dan rakyatnya. Cuba sendiri sangat bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela, sehingga dampak dari tindakan AS dipandang sebagai ancaman serius terhadap stabilitas sosial dan ekonomi kawasan.
Tak hanya itu, dalam sidang PBB yang sama, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menyebut operasi militer Amerika di Venezuela sebagai “aksi agresi yang tidak dapat dibenarkan” dan pelanggaran prinsip inti Piagam PBB tentang kedaulatan dan persamaan bangsa-bangsa. Ia mendesak agar Presiden Nicolás Maduro dan istrinya segera dibebaskan tanpa syarat.
Kecaman internasional juga datang dari sejumlah negara anggota Dewan Keamanan, di mana banyak yang sepakat bahwa tindakan AS merusak tatanan hukum internasional dan menciptakan preseden berbahaya bagi konflik masa depan. Seorang diplomat Brasil menilai aksi militer itu “melampaui batas yang dapat diterima” dan sebuah “pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB”.
Di sisi lain, laporan baru dari media internasional juga mengungkap bahwa pemerintah AS kini berupaya menjual minyak Venezuela yang disita tanpa batas waktu, dengan hasil penjualan masuk langsung ke rekening yang dikendalikan oleh Washington, dipandang Caracas sebagai bentuk hasil “pemerasan terbesar dalam sejarah energi global” yang memperkaya AS sementara negara Venezuela makin terpuruk.
Kritik tajam ini muncul di tengah gelombang protes global dan pernyataan dari para ahli hukum internasional yang menyebut langkah AS melanggar prinsip dasar hukum internasional, karena menyerang negara berdaulat tanpa otorisasi PBB. (UGS)



